LSM PITA Bersama SKK Migas – Inpex dan Pemda KKT Launching Program Kesehatan Di desa Lermatan

  • Whatsapp

SAUMLAKI,N25NEWS.com – Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Ibu Anak Tanimbar (LSM PITA) dengan menggandeng SKK Migas – Inpex dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar melakukan Launching Community Healt Program In Tanimbar Island 2020.

Hal ini sejalan dengan tujuan berdirinya lembaga tersebut yaitu memprioritaskan kepedulian terhadap kondisi kesehatan masyarakat khususnya kesehatan ibu dan anak.

Hal ini di sampaikan Ketua LSM Peduli Ibu Anak Tanimbar (PITA ) Jecklin Seletty Di Selah-Selah Acara lounching kamis 19 Maret 2020 yang di pusatkan di Desa Lermatan Kecamatan Tanimbar Selatan Kabupaten Kerpulauan Tanimbar.

Seletty menyebut,Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Ibu Abak Tanimbar ( LSM PITA) sebuah organisasi yang didirikan oleh sekelompok anak muda Tanimbar dengan latar belakang kelulusan strata pertama dibidang kesehatan, sosial budaya serta lingkungan.

“Kami merasa terpanggil untuk membangun daerah tercinta ini secara sukarela, dan kami sadar Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar tidak dapat berjalan sendiri tetapi perlu dibantu untuk pengoptimalkan pekerjaan dilapangan apalagi program kegiatan fundamental menyentuh sampai ke masyarakat,”ujar Ketua LSM PITA ini.

Selain itu lanjut dia,program yang dapat menyentuh langsung dimasyarakat menjadi dasar pijak bagi LSM PITA untuk tetap berkarya demi kabupaten kepulauan Tanimbar.

Program pelayanan kesehatan masyarakat katanya,merupakan program unggulan dibidang kesehatan yang digagas oleh LSM PITA dengan menggandeng Inpex Masela Ltd sebagai stakholder atau partner kerja untuk melaksanakan program intervensi menu harian bagi bayi atau balita dengan gizi kurang dan gizi buruk ditiga desa penyangga ibu kota kabupaten,desa Bomaki, desa Lermatan dan desa Latdalam.

“Kami LSM PITA menganggap pentingnya penyiapan generasi Tanimbar yang sehat sejak dini dan mampu bersaing secara kualitas dengan anak – anak muda lainnya dikanca nasional maupun internasional serta mampu bersaing dalam mengambil bagian dalam kehadiran blok masela kedepan karena kalau kita mau cerdas kita harus sehat,”jelas Seletty.

Selain itu dirinya juga menjelaskan bahwa banyak kendala yang pihaknya hadapi dalam melaksanakan program ini, tertumbuk dengan rumitnya birokrasi dan ego – ego sektoral yang cukup tinggi, kemampuan datanya yang kurang mumpuni dan berbagai disparitas lainnya.

Untuk itu dirinya menegaskan bahwa Kendala – kendala yang ditemui LSM PITA bukan menjadi penghalang karena anak muda tetaplah anak muda dengan ketulusan hati untuk membangun negeri ini serta tuntunan dari yang maha kuasa mereka dapat menghancurkan rongga – rongga penyekat ini. Kemudian dapat dibuktikan dengan kerjasama yang dilakukan dengan Dinas, Badan terkait diantaranya Dinas ketahanan pangan, Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan anak, Puskesmas Saumlaki dan PKK Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

“Saya secara pribadi sangat salut dan bangga kepada Bapak Petrus Fatlolon dan Ibu Joice Penturi yang sudah membuka diri mau melihat kebawah dan menjadi teman diskusi dalam mencari solusi dalam masalah ini didepan mata kita tetapi terabaikan,” kata Jecklin Siletty.

Masalah nutrisi dan kurang gizi yang ia temui,penyebabnya sangat kompleks pola hidup bersih yang kurang, pola makan yang tidak teratur, tidak mengkonsumsi susu sehingga pasokan nutrisi pada bayi dan balita, hal ini menyebabkan tingginya angka bayi kurang gizi dan gizi buruk ketimbang ditimbang berat bayi tidak naik bahkan sampai kepada gizi buruk.

“Hal inilah menjadi konsen buat kami untuk melaksanakan program ini, penerapan PHBS, penerapan kulit bersih dan sehat, menjaga lingkungan agar tidak kumuh, pentingnya kemandirian keluarga dalam mencari nafkah, peningkatan pengasupan gizi khusus kepada bayi dan balita.” ujar Jecklin Siletty.

Dari data yang didapatkan berasal dari Puskesmas Saumlaki namun tidak serta merta nama-nama tersebut langsung diterima LSM PITA untuk dijadikan penerima bantuan intervensi namun didentifikasi lagi dan observasi satu persatu.

“Kunjungan yag kami lakukan itu dari rumah kerumah, desa kedesa dan hasilnya adalah ada beberapa anak yang normal berat badannya, ada anak yang tidak layak terima bantuan dan ada anak yang digantikan.Hasilnya 7 anak dari desa Bomaki, 6 anak dari desa Lermatan dibawah garis merah kurang gizi, 2 anak dari Rau Weturlely diduga anak kurang gizi, dan satu balita dibawah garis merah, totalnya sekitar 16 anak tetapi yang menerima bantuan intervensi sekitar 12 anak,”jelas Ketua LSM Peduli Ibu Anak Tanimbar (PITA ) Jecklin Seletty.

Sehingga intervensi yang kami lakukan selama 90 hari kedepan, bukan hanya sebatas soal makan namun masyarakat dilatih untuk menggunakan makanan lokal, pemberdayaan dengan tujuan agar keluarga bisa mandiri dan tidak tergantung dari bantuan pemerintah. Sehingga diharapkan melalui kegiatan ini sebagai suatu bentuk nyata untuk membantu mensosialisasikan hidup sehat dan bersih.

Reporter : Iman S
Editor : Redaksi

Related posts