Orangtua Korban Kekerasan Dan Penganiayaan Menolak Penyelesaian Damai Secara Adat

  • Whatsapp

SAUMLAKI,N25NEWS.com-Kunjungan Bupati Kepulauan Tanimbar (KT) yang diwakili Sekretaris Daerah serta Kapolres KT, bersama beberapa petinggi dijajaran Polres dan Polsek Tansel terhadap korban kekerasan dan penganiayaan oleh Danki Brimob Kepulauan Tanimbar dan beberapa oknum anggotanya menyisakan tanda tanya.

Adapun,Orangtua (Ortu) korban mengatakan,dirinya bersama keluarga besar Fanumbi baik yang berada di Tanimbar maupun diluar Tanimbar bahkan di manca negara menerima dengan baik kunjungan tersebut sebagai bentuk penghargaan keluarga,namun tidak mengharapkan belas kasihan agar dikunjungi,tetapi karena pihak Kapolres dan jajaranya telah datang kunungi korban jadi tetap hargai.

“Melalui perwakilan keluarga Fanumbi telah disampaikan bahwa kami menerima kunjungan karena menghargai, tetapi kami tidak bersedia untuk penyelesaian secara adat pada saat itu juga, karena anak kami masih dalam kondisi kritis meski sudah sedikit menunjukan kemajuan pemulihan kesehatannya,”ungkap ayah korban kepada N25NEWS.com,selasa (29/9).

“Kami seolah dipaksakan untuk harus berdamai melalui proses penyelesaian adat, kami orang beradat jadi anda tidak perlu seolah-olah memaksa kami untuk berdamai dangan cara adat kami sendiri,”pungkas ayah korban dengan nada geram.

Lebih lanjut kata Benediktus Fanumbi yang merupakan ayah korban penganiyaan menyampaikan,bahwa proses adat itu kapan pun dapat dilaksanakan,namun bagi keluarga proses hukum tetap harus berjalan,sehingga dapat memberikan efek jera dan juga edukasi bagi masyarakat bahwa kekerasan sangat ditolak dan tidak ada tempat segala bentuk kekerasan di negeri ini.

Selain itu,dengan cucuran air mata, Benediktus Fanumbi ayah korban menuturkan bahwa Danki Brimob KT yang juga salah satu pelaku kekerasan terhadap kedua putranya turut hadir dalam kunjungan tersebut dan memberikan bantuan berupa uang untuk membantu meringankan beban keluarga korban.

Diketahui bantuan itu juga  dirinya merawat kedua puteranya serta obat-obatan yang tidak terdaftar di departemen kesehatan Republik Indonesia. Namun obat-obatan tersebut dilarang untuk dikonsumsi oleh dokter yang merawat putranya Marsianus yang sempat kritis.

Sementara itu,menanggapi pemberitaan di media masa belakangan ini yang menyatakan bahwa kedua korban terlibat bentrok dengan oknum anggota Brimob,ditepis Benediktus bahwa kedua putranya tidak mungkin terlibat bentrok denga personil Kompi C Pelopor Satbrimob Polda Maluku yang bersenjata laras panjang bahkan salah satunya sempat mengokang senjata.

“Justru kedua putra saya menjadi korban kekerasan dan main hakim sendiri oleh oknum anggota Brimob Kepulauan Tanimbar bahkan oleh Danki Brimob sendiri yakni saudara Abraham Thenu,”tutur  Benediktus Fanumbi.

Benediktus juga sangat menyayangkan pernyataan Dansat Brimob Polda Maluku yang dilansir media beberapa waktu lalu bahwa kedua putranya tidak dipukul oleh Danki Brimob sementara Danki Brimob sendiri mengakui menampar kedua anaknya pengakuan Danki Brimob ini pun telah dilansir media  apakah menampar bukan bagian dari tindakan memukul atau menganiaya  atau tindak kekerasan ?.

“Kita punya saksi yang menyaksikan secara langsung kekerasan yang dilakukan oleh oknum anggota Brimob dan Dankinya.Jadi jangan membangun opini publik yang seolah membalik fatkta bahwa kedua anak saya terlibat bentok dan menjadi korban dalam bentrokan tersebut. Sebagai Aparatur Sipil Negara, saya mendidik anak-anak saya agar taat dan sadar hukum,”tegas Benediktus.

“Anak saya yang bernama Thimotius itu berprofesi sebagai seorang jurnalis,meski profesinya itu dihina dengan cara KTA Perssnya diinjak-injak sampai rusak, sementara kakanya Marsianus seorang mekanik, tidak mungkin mereka berdua terlibat bentrok dengan anggota Brimob yang bersenjata bahkan senjata itu digunakan untuk menganiaya kedua anak saya,”tandas Benediktus mengakhiri.

Reporter    : JIAS

Editor        : Aris Wuarbanaran

Related posts